fbpx

Difinisi Pendidikan Islam

Istilah “pendidikan” dalam konteks Islam lebih banyak dengan menggunakan istiah “al-tarbiyyah, al-ta’lim dan al-ta’dib”. Setiap istilah ini memiliki makna yanng berbeda, karena perbedaan teks dan konteks kalimatnya, walaupun dalam hal tertentu, istilah-istilah tersebut mempunyai kesamaan.

Menurut Mushtofa al-ghaylani, tarbiyyah lebih bermakna penanaman akhlak yang mulia pada jiwa yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk nasihat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan kompentensi jiwa yang mantap, yang membuahkan sifat-sifat bijak, baik cinta akan kreasi dan berguna bagi tanah airnya.

Pengertian ta’lim menurut Abul Fatah Jalal sebagai proses pembentukan pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah, sehingga terjadi takziyyah (penyucian) atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia berada dalam suatu kondisi yang memungkikan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahui.

Ta’dib sebagai istilah yang paling mewakili dari makna pendidikan berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits dikemukakan oleh Syed Naquib Al Attas. Al Attas memaknai pendidikan dari hadits.

Al-Attas meng-klaim bahwa konsep ta’dib adalah konsep paling representatif mewakili pendidikan Islam, alasan al-Attas adalah “struktur konsep ta’dib sudah mencakupunsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim) dan pembinaan yang baik (tarbiyah)sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga serangkai konsep tarbiyah, ta’lim, ta’dib.

Konsep tarbiyah pada saat ini telah mengalami reduksi dan akhirnya memiliki kesamaan arti dengan konsep pendidikan Barat. Mengingat istilah tarbiyah adalah suatu terjemahan yang jelas dari istilah “education” menurut artian Barat. Meskipun para penganjur penggunaan istilah tarbiyah terus membela istilah itu yang mereka katakan sebagai dikembangkan dari al-Qur’an, pengembangannya didasarkan atas dugaan belaka. Dengan kata lain, menurut al-Attas, hal inimengungkapkan ketidak sadaran mereka atas struktur semantik sistem konseptual al-Qur’an.

Sumber Referensi : Internet, Medsos, Artikel Dll.